Wednesday, October 11, 2006
Surabaya
16 september-26 september 2006 bulan ini saya liputan ke darah jawa timur udah 2 kali jalan, di antaranya ke daerah lumajang dan madura. kali ini saya menjelajahi kota madura, di antaranya; bangkalan, sumenep dan pamengkasan.hari ke 2 gue langsung liputan karapan sapi di kota pamekasan, kebeneran ada tim jp (jejak petualang) juga yang liputan karapan sapi dan satu hotel ternyata...lucu yaa, sekarang udah 1 atap perusahaan..jadi berasa 1 trans. Ngeliat mereka sirik juga sih, JP kalo jalan langsung full team, ada 7 orang waktu itu dan bawa mobil sendiri nan mewah gile...... sedangkan gw cuma 2 orang, kameramen ama reporter doang, kebayang ga sih boringnya dan sunyinya..sedangkan mereka ber-tujuuuuuhh..kebayang ga sih serunya! he.....he........, tapi gw nikmatin aza...apa adanya., apalagi ketemu ama reporter jp yang ternyata manizzzz juga, jadi terhibur diriku ini, sayang gue ngak akrab banget padahal pengen sihhh ngobrol dan deket githuuu...lohh hee...he... dasar emang mata cowok masihhh kemana-mana......aza. sekarang yang bisa gue tulis tentang madura.. ....ga banyak..terik dan panas, itu pasti..ternyata madura adalah sebuah pulau, cukup besar juga sihhh dan apa ya... sepi memang... ramai ....cukup ramai juga, karena pada saat itu kota tepatnya di daerah pamengkasan ada sebuah lomba tahunan nyaitu lomba karapan sapi khas kota madura.di tengah perjalanan, gue ngak begitu enjoy ngak tahu kenapa, pokoknya tiap aku ambil gambar pikiran dan hatiku ngak begitu mengenakan, bawaannya males banget, mana udara di sana panas jadi hatiku makin panas aza.apa lagi ya.....oya..... pas liputan kenapa yac... kok kayaknya gue biinggung terus kalau mau ambil gambar, ngak pd dan ngak enjoy, tapi..... menjelang akhir liputan akhirnya hati gue sedikit terhibur olehh adanya sebuah benda warna hijau yang menarik hatiku, ya.... ketika kita liputan ke pantai lombeung, suatu tempat dimana terkenal dengan pohon cemara udang, cemara udang!!!!!!!! dan ternyata di situ banyak sekali tanaman cemara udang yang unik untuk di lihat dan di amati, akhirnya kita liputan cemara udang tersebut, setelah selesai akhirnya hatiku berniat untuk membawanya ke luar madura, kita b2 akhirnya membeli cemara udang tersebut dengan harga 40 ribu rupiah, di situ banyak macam dan ragamnya, ada yang udah jadi bonsai maupun yang sedang dan akan di bikin bonsay.apalagi ya........ ntar dehh kita ceritain lagi soalnya sekarang gue mau nemenin editan episode madura ya itu liputan karapan sapi.
Friday, October 06, 2006
hari ini 06/10/06
....... aku mulai tak percaya lagi terhadap dirimu,
kamu udah tak perhatian lagi terhadap diriku ini.
kamu udah cuek dan acuh terhadap diriku.
kayaknya kamu udah betah di kota
dan memang saya perempuan kampung bukan perempuan kota
tapi saya tidak bisa di bohongin.....
sms itu yang membuat diriku
kayaknya tak berharga...
baik buat diriku sendiri maupun
buat yang selama ini aku hidup bersama
selama ini aku bekerja keras
tak pantang menyerah
tak berputus asa
itu semua demi
orang yang aku sayangi dan aku cintai
ternyata perasaan itu ...
tak pernah lepas dari pikirannya
tak pernah hilang dari ingatannya
rasa tak percaya.... dan terus tak percaya....
sampai kapan rasa itu akan hilang
sampai kapan rasa itu akan lepas dari pikirannya
hanya dia dan yang di atas lah yang tahu
Monday, October 02, 2006
Puasa
Siang hari sangat terik, pertama bulan puasa saya berada di suatu pulau yang terkenal dengan caroknya, ya... madura orang biasa menyebutnya. Ternyata madura adalah sebuah pulau kecil yang sangat tenang dan panas, tidak begitu dengan orang-orangnya, di madura orangnya temperamen kalau kita salah ucap maupun salah tingkah nanti pasti kita menemui kesulitan, itulah gaed kita memberikan perhatian ke kita b3.
memang di pulau madura sangat panas, panas seperti tampang orang-orangnya yang berexpresi garang dan hitam-hitam, disana bahasa pun tidak semuanya bisa ber bahasa indonesia, di sana masih pakai bahas madura semua yang susah untuk di ikuti dan ngak ngerti artinya.
Madura mempunyai beberapa wilayah dan daerah yang mempunyai berbagai kekayaan alam baik wisata maupun beraneka ragam budaya. Disana kita meliput tentang karapan sapi, pantai yang terkenal dengan cemara udangnya, dan yang unik lagi masyarakat yang tidur beralaskan atau tidur dengan kasur pasir, pokoknya wuihhh dan di sana juga ternyata ada keraton dan masjid yang punya sejarah kerajaan waktu jaman dulu, masih terawat lagi.
waduh tapi hari demi hari saya lewati dengan tidak menyenangkan, rasanya sangat malas dan tidak bersemanggat, tidak tahu kenapa yac????
Wednesday, September 13, 2006
suara hatiku

PUISI CINTA SUARA HATI
Kadang-kadang...aku terdengarsatu jeritan suara yang amat bergemuruhbegitu kuat sekalibergema didalam lubuk hati inimeminta satu kepastian dan jawapantentang erti semuanya ini!
kadang-kadang pula...aku seperti terasa saolah-olahsegala-galanya senyap dan sunyibegitu hening sekalidan begitu sepitiada bunyi suaratiada honartiada bisikan..tiada soalantiada satu suara pun yang mahukan jawapan.
Dan ketika waktu itulahDatang satu desakan yang amat kuatMenolak dan memaksa diri ku iniBangun mencari arti nuraniDan hakikat PUISI CINTA
Renungan

Saturday, September 09, 2006
Renungan
foto by boy komar 2006
SEBUAH TITIPAN
Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa :
sesungguhnya ini hanya titipan,
Semua miliku hanya titipan Allah
Rumah yangaku tinggali hanya titipan Nya,
Hartaku hanya titipan Nya,
Putriku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,mengapa
Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu
diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan
bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
kuminta apa yang cocok dalam hidupku,
kuminta kesehatan keluargaku,
kuminta diberi kemudahan dalam mengahadapi segala cobaan dan rintangan
semuanya aku tetap berdoa
untuk keselamatan keluargaku
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti
perhitungan matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku
Gusti............,
padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...
"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"
hanya Dialah yang Maha Agung dan Maha Besar
Semuanya Kuasa Nya
Amin...........
Friday, September 08, 2006
Sajakku
foto by boy komar 2006Seperti Bunga
kaulah akar dan ranting pohon
akulah bunga yang tumbuh di atasmu
menghias dirimu hingga kau tampak cerah
corak warnaku adalah kebanggaanmu
hidupku adalah separuh nyawamu
saat kau mati akupun layu
tapi saat kau hidup aku bercahaya
meski aku telah dipetik sejuta kali
aku akan tumbuh dua juta kali bagi
mutak akan ada makhluk yang dapat memisahkan aku dari mu
mereka tak akan dapat membuatku tumbuh dari tanah
meski sejuta abad mereka berusahaaku tetap mati terkulai tanpa dirimu
aku sangat bersyukur karena aku telah mati
sebab tanpa dirimu....aku kesepian
Hari k 2 di Lumajang

Melewati pedesaan, sawah dan pegunungan kita mengitari, langkah demi langkah kita menjelajahi dengan semangat 45, dengan langkah yang mantap, perjalanan kita kali ini bertepi di kota lumajang jawa timur.
Karena menahan lapar kita b 3 rasanya ingin mencicipi makanan khas lumajang, tapi perut yang saya rasakan mulai berbunyi dan tak kuasa menahan lapar, akhirnya kita singgah di tempat makan di tengah sawah berbentuk rumah panggung, ada apa di sana yaccccc.
Ternyata ketika kita mulai di sodorkan menu euihhh biasa sama saja tapi euittt ada tempe penyet oooo itu kesukaan saya, saya langsung pesen enak kayanya nihhhhhh.
menunggu makanan tiba, saya tetap tak pernah meninggalkan senjata saya, di lain sisi sang reporter dengan asiknya tengah memberi makan ikan yang ada di bawah tempat kita duduk. Saya ambil gambar sang reporter memberi makan ikan, terus....terus... jangan berhenti dulu saya ambil gambar tangan dulu yach.
Waaaah......... sang reporter berteriak...., Asik makanan sudah datang, saatnya makan dan..... euit... ntar dulu jangan makan dulu, saya ambil gambar pas kamu lagi nerima makanan dari mbaknya kataku.....
sang reporter dengan lahapnya makan, saya jadi lapar euiyyy, iya mas makan dulu sini....., saya pun beranjak dari tempat ambil gambarnya menuju ketempat sang reporter, makan dulu........ah
Makan sudah selesai...... sekarang kita menuju ketempat pembuatan keripik jahe oleh-oleh khas lumajang
Membuat kripik jahe....
bahan-bahannya antara lain :
- yang pasti jahe
- kelapa
- jinten
- dan gula pasir
yang harus di siapin :
- kompor
- kuali wajan+pengorengannya
- pisau
- gunting
dan tempat kripiknya he.....he......
Cara membuatnya:
MUDAH NAMUN BUTUH KECEPATAN DAN KETEPATAN TANGAN. TAPI SEBELUM LIHAT SEMUANYA, SAYA AKAN AJAK MELIHAT DAPUR ATAU BAHAN LAINNYA YANG DIPERLUKAN UNTUK MEMBUAT KRIPIK JAHE.
JAHE DAN KELAPA DIKUPAS HINGGA KULITNYA BERSIH, KEMUDIAN DICUCI DENGAN AIR, LALU DIPARUT HINGGA HALUS. KEDUA BAHAN TERSEBUT DISATUKAN LALU KEMUDIAN DISANGRAI HINGGA KERING. OH YA, DAN TAK LUPA UNTUK MENAMBAH KELEZATAN KRIPIK JAHE, DITAMBAH PULA WIJEN YANG DISANGRAI. NAH ADONAN SUDAH SIAP KITA MULAI PEMBUATAN KRIPIK JAHE.
TERNYATA UNTUK MEMBUAT KRIPIK JAHE, BAHAN-BAHAN TADI DIMASUKAN KEDALAM GULA YANG SUDAH DICAIRKAN DAN DIADUK DENGAN RATA, SETELAH ITU ALAT PENGGILING DISIAPKAN UNTUK MERATAKAN BAHAN.
DIPOTONG PERLAHAN DENGAN GUNTING, NAH KITA MEMASUKI TAHAP YANG MEMBUTUHKAN KECEPATAN TANGAN.
SAYA PENASARAN RASANYA, KARENA DARI BAUNYA SAJA , JAHE YANG TERCIUM SUDAH SANGAT MENGGODA.
BUAH TANGAN SUDAH KUDAPAT. INILAH KRIPIK JAHE KHAS LUMAJANG.
Kalau mau coba ambil saja di lemari jelajah, enak lohhh terasa jahenyaaaa
Wednesday, August 23, 2006
Galeri foto 2005
Tuesday, August 22, 2006
sungai musi 17 san
pukul 9.30 wib kita b3 menuju ke jembatan ampera, ya.... jembatan yang sangat besar dan punya banyak sejarah, di bawahnya terlihat air yang tenang dan berwarna kecoklatan, terlihat lalu lalang berbagai macam perahu, hari itu tak seperti biasa orang-orang berkumpul di pinggiran, sepanduk berkibar di samping kibaran bendera merah putih,pokoknya ramai banget.
pukul 10.30 wib saya menyiapkan senjata ku, tombol-tombol yg ada di senjataku sudah saya siapkan beserta amunisinya, kita bersiap......siap...... sang reporter mulai berjalan menuju tepian pantai menghampiri perahu ketek, pak....... kita ke tengah yac.... kita mau liat, ada apa yac pak......., tukang ketek pun menjawab ; ada balapan perahu dan perahu hias mbak ngeramaiin 17 san. terlihat polisi dan dinas lalu lintas sungai musi berjaga-jaga mengelilinggi sekitar sungai musi, suara sirene pun terdengar keras seakan akan ada pejabat yang lewat.
keramaian lalu lalang perahu di sungai musi hari itu pun berbeda, kita bisa melihat perahu-perahu hias dengan berbagai atribut dan budaya atau adat-adat yang di kenakan oleh para penumpang yang ada di dalam perahu itu, bunyi-bunyian dabn lagu-lagu khas palembang terdengar dari tiap perahu hias.
sang reporter jelajah pun ber ptc ria............... 'sekarang kita sedang berada di sungai musi hari ini.......................' yac ptc pun selesai dan sang kameramen pun mengarahkan senjatanya ke tempat lain, yac suasana pun ramai orang-orang berdiri dan duduk-duduk di pinggiran bahkan ada yang sengaja ingin melihat secara dekat dengan menyewa perahu ketek di sungai musi hanya untuk melihat dan merayakan hari kemerdekaan RI yang ke 61. di lain sisi di depan benteng terlihat para pejabat daerah tengah melakukan penghormatan bendera sang merah putih.
Tuesday, August 08, 2006
berat.......

Berat .....
Kelopak 2 mata perih...
Ke 2 mata ini pedih....
Mata ini terlalu perih... dan pedih.....
Sinar mentari pagi memancarkan cahayanya
Meneranggi seluruh alam semesta
Berat rasanya bola mata ini
Kelopak matanya tertahan oleh gumpalan-gumpalan yang tak terlihat
Lemas tubuh ini...
Raut wajahnya keriput kusam
Rambut hitam berdiri tak beraturan
Baunya tak terhirup oleh pencium bau
Wahai mentari pagi...
Sinarilah diriku ini
Seperti menyinari mahluk yang teleh kau sinari
Yang tumbuh dengan suburnya
Oooooooo mentari pagi
Bangunkanlah diriku ini
Untuk mengapai esai hari ini
Menjadikan kehidupan yang benar-benar hidup.
foto by boy komar
Monday, August 07, 2006
21.00 WIB, SENIN,07082006

foto by boykomar
Suara ocehan sang baby mulai terdengar dari hand phone, mentari pagi mulai merayap pelan-pelan membuka tabir kehidupan, ya....... kehidupan pagi pun di mulai, mata sang manusia pun ikut menerawang ke langit-langit atap rumah baertanda manusia mulai beraktifitas dengan aktifitasnya masing2.
Kicauan burung pun bernyanyi dengan riang gembiranya, angin pagi menghembuskan ke seluruh penjuru sudut dan ruang, si boy mulai bersiap2 utuk berangkat menuju tempat aktifitasnya, matanya masih sayu semalaman si boy kadang melek terang, menemani sang baby yang lucu dan maniz pujaannya. Dengan semangat 45 pun si boy berangkat dengan rasa berat hati, meninggalkan sang baby lucu. Perjalanan di mulai suara mesin2 kreta mulai maraung2 pelan-pelan dan terus-terus berjalan mengikuti panjangnya rel-rel, hawa dingin di dalam ruang lambat laun mulai terasa dingin dan dingin......
keruwetan dan kemacetan mulai terlihat dan terasa, kepenatan pun memenatkan kepala rasa lapar dan lelah bercampur jadi satu kata, roda empat melaju berselok selok melampaui satu mobil, 2 mobil dan terus melaju, lampu merah menyala memberhentikan para pengendara roda empat mapun roda dua, sambil menunggu para pengamen berdendang menghibur ooo...... ini lah kehidupan....., lampu merah berganti dengan hijau bertanda semua jalan keruwetan mulai terlihat kembali semua ingin duluan silakan....... yac begitulah kondisi jalan kota jakarta selalu dengan kemacetan, kepenatan, dan ..... liat saja sendiri dan rasakan bagaimana anda akan merasakannya.
Seperti biasa suasana kantor mulai terasa dingin, keruwetan mulai terlihat kembali, berseliweran hitam.... itu bukan setan melainkan orang2 kantor yang slalu sibuk dengan aktifitasnya masing2, sesuai dengan job nya masing2, ya... begitulah kondisi kantor sekarang kebanyakan orang yang hidup di satu ruangan kecil.
Wednesday, August 02, 2006
urban bandung 2
Malam pun telah larut, dan berganti terus berganti......... cahaya siangpun mulai terasa panas dan panas, ya bandung kota kembang yang dulu terasa dingin dan sejuk sekarang menjadi berubah total, sampah dimana-mana, hawa panas mulai menyengat tubuh kita dan proses kendaraan mulai padat dan memacetkan. biru batik pun mulai keluar dari peraduaannya, dimulai dari sang reporter pun mulai mengeluarkan mobile selnya, tanganpun mulai memencet tombol2 dan.... halo ...ya kita ketemuan diman nihhhhhh, ok kita menuju ke sana sekarang kita msh di jalan nihhh....
wah..... kita msh panjang nihhh kita lanjutin besok yeeeee
" Boscha..................."

Perjalanan jelajah kali ini yang k 2 kalinya kita b2 akan membahas tentang peninggalan seorang tokoh yang sangat berarti bagi perkembangan sejarah di negara kita Indonesia, Boscha pria berkebangsaan belanda yang banyak meninggalkan tempat-tempat sejarah yang sangat-sangat menguntungkan baik buat negara maupun masyarakat sekitarnya.
Tepatnya di daerah Pengalengan Jawa Barat, tempatnya tidak jauh dari kota bandung, di tempuh lewat jalan darat ya.... sekitar emapt jaman dehhhhhh....., wuihhhh tempatnya sangat asik dan sangat menarik untuk berlibur maupun untuk bikin suatu liputan, karena di situ byk yang bisa kita ambil baik dari masyarakatnya, yang rata-rata menjadi seorang pemetik teh, maupun dari keindahan alamnya dan yang sangat menarik lagi nyaitu tempat di mana seorang pengagasan dan tokoh yang sangat berjasa dalam perkembangan teknologi dan penbdidikan di indonesia nyaitu rumah , pabrik, dan makam serta tempat2 yang bersejarah lainnya, ya siapa lagi kalau bukan orang belanda itu "Boscha"
Perkebunan malabar merupakan peninggalan dari masa penjajahan Hindia Belanda. Perkebunan ini di dirikan pada tahun 1896 oleh karl Adolf Rodolf Boscha, seorang warga negara Belanda sebagai utusan dari firma John Peet & Co. Mereka membuka hutan di daerah malabar, selanjutnya membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Cilaki A dan B yang berkekuatan 750 KW dan PLTA Citamaga untuk penerangan perumahan.
KAR Boscha merupakan pemimpin perkebunan Malabar yanag pertama dari tahun 1896 hingga 1928, setelah beliau wafat kepemimpinan di gantikan oleh ir.RA Kerkhoven (1928-1934) dan kemudian di gantikan oleh Ermeling (1934-1942). Periode ini di namakan dengan masa pemerintahan Belanda I, dimana perkebunan Malabar sepenuhnya berada dalam kekuasaan Belanda. ini berarti seluruh hasil bumi dari perkebunan Malabar pada waktu itu masuk ke dalam kas Belanda.
" Boscha..................."

Perjalanan jelajah kali ini yang k 2 kalinya kita b2 akan membahas tentang peninggalan seorang tokoh yang sangat berarti bagi perkembangan sejarah di negara kita Indonesia, Boscha pria berkebangsaan belanda yang banyak meninggalkan tempat-tempat sejarah yang sangat-sangat menguntungkan baik buat negara maupun masyarakat sekitarnya.
Tepatnya di daerah Pengalengan Jawa Barat, tempatnya tidak jauh dari kota bandung, di tempuh lewat jalan darat ya.... sekitar emapt jaman dehhhhhh....., wuihhhh tempatnya sangat asik dan sangat menarik untuk berlibur maupun untuk bikin suatu liputan, karena di situ byk yang bisa kita ambil baik dari masyarakatnya, yang rata-rata menjadi seorang pemetik teh, maupun dari keindahan alamnya dan yang sangat menarik lagi nyaitu tempat di mana seorang pengagasan dan tokoh yang sangat berjasa dalam perkembangan teknologi dan penbdidikan di indonesia nyaitu rumah , pabrik, dan makam serta tempat2 yang bersejarah lainnya, ya siapa lagi kalau bukan orang belanda itu "Boscha"
Perkebunan malabar merupakan peninggalan dari masa penjajahan Hindia Belanda. Perkebunan ini di dirikan pada tahun 1896 oleh karl Adolf Rodolf Boscha, seorang warga negara Belanda sebagai utusan dari firma John Peet & Co. Mereka membuka hutan di daerah malabar, selanjutnya membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Cilaki A dan B yang berkekuatan 750 KW dan PLTA Citamaga untuk penerangan perumahan.
KAR Boscha merupakan pemimpin perkebunan Malabar yanag pertama dari tahun 1896 hingga 1928, setelah beliau wafat kepemimpinan di gantikan oleh ir.RA Kerkhoven (1928-1934) dan kemudian di gantikan oleh Ermeling (1934-1942). Periode ini di namakan dengan masa pemerintahan Belanda I, dimana perkebunan Malabar sepenuhnya berada dalam kekuasaan Belanda. ini berarti seluruh hasil bumi dari perkebunan Malabar pada waktu itu masuk ke dalam kas Belanda.
Friday, June 30, 2006
Sabar......
penuh dengan segala cobaan dan tantangan, kita hidup di dunia ini d beri cobaan, di mana kita harus selalu bisa menahan kesabaran itu. Cobaan yang kita hadapi ketika sudah menjalani hidup ber2 bersama seorang istri akan slalu ada, dan itu pasti terjadi dalam rumah tangga, apapun persoalannya, cobaan akan slalu mengikuti kita, maka dari itu kita wajib untuk bersabar dan selalu berdoa. Persoalan dan cobaan akan terus ada, tidak mengenal tempat,waktu dan siapa orangnya.
Dalam rumah tangga nantinya kita akan ada seseorang di antara dan di tengh2 kita.
Di tahun pertama, kita masih belajar untuk hidup berdua, dan tengah mempersiapkan diri belajar hidup bertiga, dengan kehadiran si buah hati.
Tak ada salahnya di tahun pertama perkawinan ini, kita berdua mulai belajar memupuk minat pada kegiatan yang sama.
Tak perlu cemas bila dalam masa penyesuaian terjadi pertengkaran. Yang penting, temukan cara penyelesaian yang terbaik dan gunakan pengalaman yang didapat untuk menghadapi masalah serupa.
Meski di tahun pertama perkawinan ini kita berdua masih meraba-raba ke mana kehidupan pernikahan ini akan berjalan, ada baiknya kita dan pasangan mulai melihat jauh ke depan.
Tentukan rencana jangka pendek dan jangka panjang; dari jumlah anak yang diinginkan hingga merencanakan keuangan agar anak-anak kelak bisa bersekolah sampai ke jenjang tertinggi.
Tahun kedua, berkompromilah
Memasuki tahun kedua, manisnya masa bulan madu berkurang. Pahitnya konflik akibat perbedaan sifat dan pendapat, mulai terasa. Kita mungkin sempat putus asa, mengapa pasangan jadi semakin menyebalkan?
Tak perlu buru-buru cemas dan berprasangka yang bukan-bukan. Meski belum bisa sepenuhnya menerima perbedaan itu, mulailah belajar saling berkompromi. Konflik biasanya timbul bila masing-masing Kita memiliki harapan dan aspirasi berbeda terhadap pasangan. Jadi, sedapat mungkin saling komunikasikan, apa yang kita harapkan dari pasangan.
Di tahun kedua ini, umumnya Kita berdua sudah jadi ayah dan ibu. Berperan sekaligus sebagai ibu dan istri atau ayah dan suami memang tidak gampang. Istri yang sibuk mengurus anak, jadi sering lupa merawat suami, bahkan dirinya sendiri. Suami juga sering lupa memanjakan istri seperti waktu berpacaran. Karena, semua perhatian, waktu dan tenaga tercurah pada anak.
Jadi, jangan lengah! Meski disibukkan dengan peran-peran ini, tetap usahakan untuk memberi perhatian khusus pada pasangan. Bagaimanapun, setiap manusia butuh untuk merasa tetap dicintai. Ajak pasangan Anda untuk kencan setiap hari Jumat, misalnya. Pada saat itu Anda bisa nonton, main bowling, atau sekadar menikmati secangkir kopi di kafe.
Tapi yang lebih penting, pahami bahwa tak ada satu pun dari kita yang bisa berubah total dalam waktu singkat. Ini akan meringankan hati kita, membuat kita lebih sabar, dalam menghadapi ‘kelemahan-kelemahan' pasangan. Tidak malah saling menyalahkan dan menyudutkan.
Monday, June 12, 2006
tanggung jawab

Sebuah pertarungan yang hebat antara tugas kantor sebagai tanggung jawab profesi dengan tanggung jawab sebagai seorang kepala keluarga, dimana kita dituntut untuk memilah-milah secara profesional. Kita jurnalis dituntut untuk tetap profesional dalam memberikan suatu informasinya yang bisa dipertanggung jawabkan pada seluruh masyarakat. begitu juga kita sebagai seorang kepala keluarga kita juga harus bisa mempertanggung jawabkan atau membagi waktu antara urusan keluarga, pribadi dan urusan luar rumah, kita harus pintar-pintar membagi waktunya. Tugas kita bukan hanya tanggung jawab kepada diri kita sendiri, kantor dan keluarga akan tetapi kita harus bertanggung jawab kepada yang di atas (akherat nanti), karena kita hidup sudah ada yang mengatur, kita hanya berusaha dan berdoa serta menjalankan perintah dan larangannya.
Diri kitalah yang bisa menentukan kemana kita harus melangkah bukan orang lain, kita harus mempunyai sikap dan pendirian, tidak hanya ikut-ikutan saja, kita harus punya prinsip di dalam hidup ini apapun yang kita jalani dan kita lakukan demi tercapainya cita-cita dan khayalan kita di muka bumi ini, kita tetap harus semangat walaupun kita selalu diberi cobaan oleh yang di atas. (21.20 wib, jkt transtv)
Saturday, June 10, 2006
malam minggu 21.45 wib

Malam minggu ini seperti biasa diriku hanya berada di dalam kantor dengan segala kepenatan dan kegundahan yang ada dalam diriku ini.
Dingin....dan hanya di temani dengan suara-suara gemuruh tayangan tanyangan beberapa stasiun tv dari seluruh penjuru dunia.
Tetapi malam ini temen-temen di hibur dengan adanya pertandingan sepak bola piala dunia 2006 di jerman, surok sorai bercampur tegang dan bercampur kesal mereka tetap mengamati tendangan, sundulan dan gocekan dari kaki kaki terampil dan terlatih oleh para bintang dari ke2 team yang sedang berlaga di pentas piala dunia 2006, malam ini yang di siarkan langsung oleh salah satu stasiun tv swasta di jakarta, indonesia.
Malam pun terus berpacu dengan waktu, tak terasa rasa dingin pun masih terasa di dalam gedung nan megah dan penuh dengan kerahasiaan, pertandingan pun telah usai mereka bubar.... dan melangkah entah kemana, langkah kaki mereka melangkah menurut hati dan perasaan hati mereka.
Diriku kini masih berada dalam hentakan-hentakan keyboard komputer kantor menelusuri tuts demi tuts membentuk suatu kalimat demi kalimat hingga menjadi suatu kalimat yang bermakna nan penuh makna.
Galau masih menyelimuti pikiran dan hayalan yang ada di benak kepala diriku, entah berputar untuk mencari apa.....?, perasaan tak menentu entah..... ada apa ....? diriku sendiri tak bisa merasakan dan menentukan ada apa gerangan yang ada di dalam diriku ini.... Ya Allah .... berikan jalan keluar yang baik untuk diriku maupun untuk keluarga ku, selamatkan istri dan anakku yang masih berada di dalam kandungan istriku, semoga keluar dengan selamat dan sehat wal afiat semuanya Amin....
Saturday, April 29, 2006
Polres Cirebon Akui Blokir Tol Palikanci
SELAIN sikap rendah hati yang ditunjukkan Kapolwil Cirebon Kombes Pol Drs Bambang Puji Rahardjo dengan menyampaikan permintaan maaf kepada wartawan, Bambang juga menjelaskan tentang ada tidaknya aparat Polres Cirebon memblokir jalan tol Kanci. Dikatakannya, pemblokiran tersebut memang ada, dilakukan beberapa jam kemudian setelah warga Astnajapura melakukan hal serupa. Tujuannya, untuk menghindari terjadinya pelemparan kendaraan oleh warga setempat dan terjadinya kecelakaan. "Kapolres menanyakan ke saya bagaimana kalau dilakukan pemblokiran. Saya sampaikan kalau memang itu langkah terbaik, laksanakan. Saya pikir dengan pemblokiran, masyarakat yang lalulalang tidak akan jadi korban, terutama yang menggunakan kendaraan masuk tol," jelas Bambang.Namun demikian, lanjut Bambang, kebijakan mereka ternyata merugikan pihak jasa marga karena tidak bisa mengutip (memperoleh, red) masukan selama beberapa jam. Ditambahkannya, saat pemblokiran berlangsung, dirinya ditelepon oleh Polda Jabar dan menanyakan maksud pemblokiran tersebut. "Saya jawab ini adalah kebijakan. Memang ada yang dirugikan, namun ada juga yang diuntungkan. Lebih baik saya blokir daripada jaga di jalan tol. Berapa banyak personel yang harus saya persiapkan," tandas Bambang.Sekadar diketahui, soal pemblokiran jalan tol itulah yang membuat Kapolres Cirebon AKBP Drs Pujiono Dulrachman berang. Pujiono tersentak ketika Ivansyah dari Koran Tempo bertanya tentang pemblokiran tersebut. Pertanyaan Ivansyah, dianggap bersifat menuduh. Padahal, hal itu memang benar dilakukan aparat Polres Cirebon. Di sinilah kemudian pekerja pers Cirebon tidak terima dengan sikap Pujiono saat menjawab pertanyaan Ivansyah, dan meminta yang bersangkutan agar meminta maaf.Tetap Menuai KecamanSikap Kapolres Cirebon AKBP Drs H Pujiono Dulrachman, yang justru menyalahkan wartawan dengan alasan telah mengajukan pertanyaan tanpa mematuhi aturan, menuai kecaman. Sikap tersebut dinilai sebagai sikap arogan dan telah mencampuri cara kerja jurnalistik. Padahal, sebelumnya, Ivansyah selaku wartawan yang mengajukan pertanyaan tentang pemblokiran tol, mengaku mengajukan pertanyaan itu dengan sangat santun. "Saya menyampaikannya dengan santun. Apalagi beliau adalah Kapolres. Ketika itu Kapolres marah bahkan mau memukuli saya dengan tongkat komandonya," terang Ivansyah.Adib Hafsani dari Anteve menilai, ucapan Kapolres yang mengatakan wartawan bertanya dengan tidak mematuhi aturan, justru menunjukan sikap yang tidak percaya diri saat menghadapi wartawan. "Melakukan wawancara atau bertanya kepada narasumber, banyak tekniknya. Apa yang dilakukan Ivansyah adalah bagian dari teknik wawancara. Saya sesalkan pernyataan itu. Yang harus dilakukan adalah bagaimana menyikapi pertanyaan dan menjawabnya, bukan dengan emosi dan bahkan mengancam pakai pentungan," tegas Adib Hafsani.Senada dengan Iman, Soni Budi Ramdani dari Tribun Jabar, juga mengecam pernyataan Pujiono, bahkan lebih keras. Bagi Soni, jika semua pejabat bersikap seperti Pujiono, maka kebebasan pers akan terancam. "Ini perlu diwaspadai. Saya khawatir dan cemas dengan sikap seperti yang ditunjukan Kapolres. Saya membayangkan saat melakukan wawancara tiba-tiba dipentungi karena bertanya dengan pertanyaan yang dianggap aneh," terang Soni berandai-andai. Dan, lanjut Soni, hal yang paling disesalkannya adalah tentang mematuhi adat ketimuran yang dimaksud Pujiono. "Sepertinya Kapolres juga harus berkaca. Apa mungkin Kapolres tidak memiliki kecacatan. Apa mungkin Kapolres sudah bersikap sebagaimana adat orang timur. Bukankah caranya menjawab pertanyaan wartawan telah menyalahi adat orang timur," cetus pria lajang ini penuh tanya.
PWI Kecam Sikap KapolresKecaman atas sikap Pujiono, juga datang dari lembaga Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cirebon. Djodjo Sutardjo, wakil ketua PWI Cirebon, kepada Radar, mengatakan, sikap yang dilakukan oknum aparat (Kapolres Cirebon, red), sudah tidak selayaknya dilakukan oleh aparat penegak hukum. “Lebih-lebih dilakukan oleh pucuk pimpinan yang seharusnya mampu mengendalikan emosi dalam situasi apa pun,” tegas Djodjo.Djodjo juga sempat kaget ketika mengetahui ternyata Pujiono enggan meminta maaf, bahkan justru membenarkan diri dan menyalahkan wartawan dengan alasan bertanya tidak sesuai aturan. Dijelaskan Djodjo, cara melakukan wawancara sangat beragam, dan oleh karenanya tidak harus disikapi secara berlebihan. Lanjutnya, secara kelembagaan, PWI mendukung aksi demo yang dilakukan puluhan wartawan dari Forum Wartawan Cirebon (FWC) sebagai perwujudan kekecewaan terhadap Pujiono yang seharusnya memberikan suatu perlindungan hukum terhadap tugas-tugas kewartawanan. “Apalagi sudah ada aturan sebagaimana tercantum dalam UU No 40 tahun 1999 tentang Pers,” pungkas Djodjo
SELAIN sikap rendah hati yang ditunjukkan Kapolwil Cirebon Kombes Pol Drs Bambang Puji Rahardjo dengan menyampaikan permintaan maaf kepada wartawan, Bambang juga menjelaskan tentang ada tidaknya aparat Polres Cirebon memblokir jalan tol Kanci. Dikatakannya, pemblokiran tersebut memang ada, dilakukan beberapa jam kemudian setelah warga Astnajapura melakukan hal serupa. Tujuannya, untuk menghindari terjadinya pelemparan kendaraan oleh warga setempat dan terjadinya kecelakaan. "Kapolres menanyakan ke saya bagaimana kalau dilakukan pemblokiran. Saya sampaikan kalau memang itu langkah terbaik, laksanakan. Saya pikir dengan pemblokiran, masyarakat yang lalulalang tidak akan jadi korban, terutama yang menggunakan kendaraan masuk tol," jelas Bambang.Namun demikian, lanjut Bambang, kebijakan mereka ternyata merugikan pihak jasa marga karena tidak bisa mengutip (memperoleh, red) masukan selama beberapa jam. Ditambahkannya, saat pemblokiran berlangsung, dirinya ditelepon oleh Polda Jabar dan menanyakan maksud pemblokiran tersebut. "Saya jawab ini adalah kebijakan. Memang ada yang dirugikan, namun ada juga yang diuntungkan. Lebih baik saya blokir daripada jaga di jalan tol. Berapa banyak personel yang harus saya persiapkan," tandas Bambang.Sekadar diketahui, soal pemblokiran jalan tol itulah yang membuat Kapolres Cirebon AKBP Drs Pujiono Dulrachman berang. Pujiono tersentak ketika Ivansyah dari Koran Tempo bertanya tentang pemblokiran tersebut. Pertanyaan Ivansyah, dianggap bersifat menuduh. Padahal, hal itu memang benar dilakukan aparat Polres Cirebon. Di sinilah kemudian pekerja pers Cirebon tidak terima dengan sikap Pujiono saat menjawab pertanyaan Ivansyah, dan meminta yang bersangkutan agar meminta maaf.Tetap Menuai KecamanSikap Kapolres Cirebon AKBP Drs H Pujiono Dulrachman, yang justru menyalahkan wartawan dengan alasan telah mengajukan pertanyaan tanpa mematuhi aturan, menuai kecaman. Sikap tersebut dinilai sebagai sikap arogan dan telah mencampuri cara kerja jurnalistik. Padahal, sebelumnya, Ivansyah selaku wartawan yang mengajukan pertanyaan tentang pemblokiran tol, mengaku mengajukan pertanyaan itu dengan sangat santun. "Saya menyampaikannya dengan santun. Apalagi beliau adalah Kapolres. Ketika itu Kapolres marah bahkan mau memukuli saya dengan tongkat komandonya," terang Ivansyah.Adib Hafsani dari Anteve menilai, ucapan Kapolres yang mengatakan wartawan bertanya dengan tidak mematuhi aturan, justru menunjukan sikap yang tidak percaya diri saat menghadapi wartawan. "Melakukan wawancara atau bertanya kepada narasumber, banyak tekniknya. Apa yang dilakukan Ivansyah adalah bagian dari teknik wawancara. Saya sesalkan pernyataan itu. Yang harus dilakukan adalah bagaimana menyikapi pertanyaan dan menjawabnya, bukan dengan emosi dan bahkan mengancam pakai pentungan," tegas Adib Hafsani.Senada dengan Iman, Soni Budi Ramdani dari Tribun Jabar, juga mengecam pernyataan Pujiono, bahkan lebih keras. Bagi Soni, jika semua pejabat bersikap seperti Pujiono, maka kebebasan pers akan terancam. "Ini perlu diwaspadai. Saya khawatir dan cemas dengan sikap seperti yang ditunjukan Kapolres. Saya membayangkan saat melakukan wawancara tiba-tiba dipentungi karena bertanya dengan pertanyaan yang dianggap aneh," terang Soni berandai-andai. Dan, lanjut Soni, hal yang paling disesalkannya adalah tentang mematuhi adat ketimuran yang dimaksud Pujiono. "Sepertinya Kapolres juga harus berkaca. Apa mungkin Kapolres tidak memiliki kecacatan. Apa mungkin Kapolres sudah bersikap sebagaimana adat orang timur. Bukankah caranya menjawab pertanyaan wartawan telah menyalahi adat orang timur," cetus pria lajang ini penuh tanya.
PWI Kecam Sikap KapolresKecaman atas sikap Pujiono, juga datang dari lembaga Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cirebon. Djodjo Sutardjo, wakil ketua PWI Cirebon, kepada Radar, mengatakan, sikap yang dilakukan oknum aparat (Kapolres Cirebon, red), sudah tidak selayaknya dilakukan oleh aparat penegak hukum. “Lebih-lebih dilakukan oleh pucuk pimpinan yang seharusnya mampu mengendalikan emosi dalam situasi apa pun,” tegas Djodjo.Djodjo juga sempat kaget ketika mengetahui ternyata Pujiono enggan meminta maaf, bahkan justru membenarkan diri dan menyalahkan wartawan dengan alasan bertanya tidak sesuai aturan. Dijelaskan Djodjo, cara melakukan wawancara sangat beragam, dan oleh karenanya tidak harus disikapi secara berlebihan. Lanjutnya, secara kelembagaan, PWI mendukung aksi demo yang dilakukan puluhan wartawan dari Forum Wartawan Cirebon (FWC) sebagai perwujudan kekecewaan terhadap Pujiono yang seharusnya memberikan suatu perlindungan hukum terhadap tugas-tugas kewartawanan. “Apalagi sudah ada aturan sebagaimana tercantum dalam UU No 40 tahun 1999 tentang Pers,” pungkas Djodjo
CIREBON - Diminta meminta maaf karena dianggap tidak etis memperlakukan wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistik, Kapolres Cirebon AKBP Drs H Pujiono Dulrachman tetap tidak bergeming. Hal itu diperlihatkan Pujiono saat disambangi untuk kedua kalinya oleh puluhan pekerja pers Cirebon, kemarin (28/4). Mantan Kapolres Sukabumi ini, justru menyalahkan wartawan dengan dalih bertanya tanpa mematuhi adat ketimuran. "Bertanya kok menuduh begitu," tukasnya enteng di hadapan puluhan wartawan. Diakui Pujiono, karena pertanyaan yang "menuduh" itulah, dirinya menjadi berang. Sepatah kata tentang permohonan maaf, samasekali tidak dilontarkan polisi dengan dua melati di pundak ini. Jangankan meminta maaf, disodori megaphone oleh wartawan agar Pujiono bisa melakukan klarifikasi agar permasalahannya selesai, samasekali tidak dihiraukannya. "Kalau mau dialog, silakan ke ruangan saya. Saya sudah ajak baik-baik lho, kalau nggak mau ya terserah," tandasnya. Di sini, beberapa anak buah Pujiono tampak tegang. Bahkan, ada yang mengancam akan menangkap wartawan dengan alasan melakukan unjuk rasa tanpa pemberitahuan. Mendapat kalimat ancaman itu, sebagian wartawan sempat tersulut emosi. "Ini sebuah arogansi baru. Kapolres dengan anak buahnya sama saja," teriak wartawan. Adu mulut dan aksi saling dorong tak bisa dihindari. Namun beruntung, tak sampai melebar lebih jauh setelah masing-masing pihak bisa menahan diri.Tak lama kemudian, Kapolwil Cirebon Kombes Pol Drs Bambang Puji Rahardjo, tiba di tengah-tengah wartawan dan langsung menjadi penengah. Sebagai pimpinan, Bambang dengan sikap bijak dan rendah hati justru menyampaikan permintaan maafnya kepada wartawan. "Sebagai pimpinan, saya minta maaf," ucap Bambang disambut aplaus wartawan. Saat penyampaian maaf, Pujiono berdiri di belakang Bambang. Sayangnya, tentang sikap Pujiono terhadap wartawan, Bambang justru terkesan melakukan pembelaan. "Itu situasional, mungkin lagi ada masalah. Saya mungkin kalau main golf lalu kalah, ketemu wartawan mungkin tidak mau menyapa," jelas Bambang mengumpamakan.Sesudahnya, Bambang mengajak berdialog. Sejumlah wartawan TV sempat melontarkan beberapa keluhan yang dianggap sebagai sebuah arogansi dari seorang Pujiono. "Saya pernah menghubungi Kapolres, meminta izin meliput untuk sebuah rubrik di TV. Tapi, beliau tidak mengizinkan bahkan mengatakan tidak butuh wartawan," ucap Khaerudin Imawan dari TV7. Mendapat keluhan itu, Pujiono kembali menjawab dengan sekenanya dan membela diri. Karena Pujiono tetap tak mau minta maaf, wartawan kemudian membacakan pernyataan sikap. Ada empat poin penting, diantaranya mengecam keras tindakan Pujiono yang telah bersikap arogan terhadap wartawan yang mengakibatkan tugas wartawan menjadi tidak aman dan terancam, Pujiono harus mengklarifikasi sikap dan perilakunya yang telah melecehkan profesi wartawan, Pujiono diminta dengan kesadaran yang tulus untuk meminta maaf kepada semua wartawan dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, serta aksi ini murni dilakukan Forum Wartawan Cirebon (FWC) sebagai bentuk solidaritas terhadap sesama wartawan yang dilecehkan oleh Pujiono. "Poin terakhir, dan ini perlu dicatat, kami tidak bertanggung jawab atas pemanfaatan aksi ini dalam bentuk apa pun dan oleh pihak mana pun," ungkap Asna Boson Sugiana dari Radar Cirebon. Sekadar diketahui, puluhan wartawan yang tergabung dalam FWC dan Aliansi Wartawan Indonesia (AWI) Indramayu ini, mendatangi halaman Mapolres sekitar pukul 10.30, dan langsung disambut Wakapolres Kompol Nurhadi Handayani, Kasat Reskrim AKP Nanang SP, Kabag Bina Mitra Kompol Dadang dan sejumlah perwira lainnya. Selain berorasi, puluhan spanduk bernada kecaman dibentangkan sepanjang berlangsungnya demo. (rsd)



