Saturday, April 29, 2006

Polres Cirebon Akui Blokir Tol Palikanci

Polres Cirebon Akui Blokir Tol Palikanci

SELAIN sikap rendah hati yang ditunjukkan Kapolwil Cirebon Kombes Pol Drs Bambang Puji Rahardjo dengan menyampaikan permintaan maaf kepada wartawan, Bambang juga menjelaskan tentang ada tidaknya aparat Polres Cirebon memblokir jalan tol Kanci. Dikatakannya, pemblokiran tersebut memang ada, dilakukan beberapa jam kemudian setelah warga Astnajapura melakukan hal serupa. Tujuannya, untuk menghindari terjadinya pelemparan kendaraan oleh warga setempat dan terjadinya kecelakaan. "Kapolres menanyakan ke saya bagaimana kalau dilakukan pemblokiran. Saya sampaikan kalau memang itu langkah terbaik, laksanakan. Saya pikir dengan pemblokiran, masyarakat yang lalulalang tidak akan jadi korban, terutama yang menggunakan kendaraan masuk tol," jelas Bambang.Namun demikian, lanjut Bambang, kebijakan mereka ternyata merugikan pihak jasa marga karena tidak bisa mengutip (memperoleh, red) masukan selama beberapa jam. Ditambahkannya, saat pemblokiran berlangsung, dirinya ditelepon oleh Polda Jabar dan menanyakan maksud pemblokiran tersebut. "Saya jawab ini adalah kebijakan. Memang ada yang dirugikan, namun ada juga yang diuntungkan. Lebih baik saya blokir daripada jaga di jalan tol. Berapa banyak personel yang harus saya persiapkan," tandas Bambang.Sekadar diketahui, soal pemblokiran jalan tol itulah yang membuat Kapolres Cirebon AKBP Drs Pujiono Dulrachman berang. Pujiono tersentak ketika Ivansyah dari Koran Tempo bertanya tentang pemblokiran tersebut. Pertanyaan Ivansyah, dianggap bersifat menuduh. Padahal, hal itu memang benar dilakukan aparat Polres Cirebon. Di sinilah kemudian pekerja pers Cirebon tidak terima dengan sikap Pujiono saat menjawab pertanyaan Ivansyah, dan meminta yang bersangkutan agar meminta maaf.Tetap Menuai KecamanSikap Kapolres Cirebon AKBP Drs H Pujiono Dulrachman, yang justru menyalahkan wartawan dengan alasan telah mengajukan pertanyaan tanpa mematuhi aturan, menuai kecaman. Sikap tersebut dinilai sebagai sikap arogan dan telah mencampuri cara kerja jurnalistik. Padahal, sebelumnya, Ivansyah selaku wartawan yang mengajukan pertanyaan tentang pemblokiran tol, mengaku mengajukan pertanyaan itu dengan sangat santun. "Saya menyampaikannya dengan santun. Apalagi beliau adalah Kapolres. Ketika itu Kapolres marah bahkan mau memukuli saya dengan tongkat komandonya," terang Ivansyah.Adib Hafsani dari Anteve menilai, ucapan Kapolres yang mengatakan wartawan bertanya dengan tidak mematuhi aturan, justru menunjukan sikap yang tidak percaya diri saat menghadapi wartawan. "Melakukan wawancara atau bertanya kepada narasumber, banyak tekniknya. Apa yang dilakukan Ivansyah adalah bagian dari teknik wawancara. Saya sesalkan pernyataan itu. Yang harus dilakukan adalah bagaimana menyikapi pertanyaan dan menjawabnya, bukan dengan emosi dan bahkan mengancam pakai pentungan," tegas Adib Hafsani.Senada dengan Iman, Soni Budi Ramdani dari Tribun Jabar, juga mengecam pernyataan Pujiono, bahkan lebih keras. Bagi Soni, jika semua pejabat bersikap seperti Pujiono, maka kebebasan pers akan terancam. "Ini perlu diwaspadai. Saya khawatir dan cemas dengan sikap seperti yang ditunjukan Kapolres. Saya membayangkan saat melakukan wawancara tiba-tiba dipentungi karena bertanya dengan pertanyaan yang dianggap aneh," terang Soni berandai-andai. Dan, lanjut Soni, hal yang paling disesalkannya adalah tentang mematuhi adat ketimuran yang dimaksud Pujiono. "Sepertinya Kapolres juga harus berkaca. Apa mungkin Kapolres tidak memiliki kecacatan. Apa mungkin Kapolres sudah bersikap sebagaimana adat orang timur. Bukankah caranya menjawab pertanyaan wartawan telah menyalahi adat orang timur," cetus pria lajang ini penuh tanya.

PWI Kecam Sikap KapolresKecaman atas sikap Pujiono, juga datang dari lembaga Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cirebon. Djodjo Sutardjo, wakil ketua PWI Cirebon, kepada Radar, mengatakan, sikap yang dilakukan oknum aparat (Kapolres Cirebon, red), sudah tidak selayaknya dilakukan oleh aparat penegak hukum. “Lebih-lebih dilakukan oleh pucuk pimpinan yang seharusnya mampu mengendalikan emosi dalam situasi apa pun,” tegas Djodjo.Djodjo juga sempat kaget ketika mengetahui ternyata Pujiono enggan meminta maaf, bahkan justru membenarkan diri dan menyalahkan wartawan dengan alasan bertanya tidak sesuai aturan. Dijelaskan Djodjo, cara melakukan wawancara sangat beragam, dan oleh karenanya tidak harus disikapi secara berlebihan. Lanjutnya, secara kelembagaan, PWI mendukung aksi demo yang dilakukan puluhan wartawan dari Forum Wartawan Cirebon (FWC) sebagai perwujudan kekecewaan terhadap Pujiono yang seharusnya memberikan suatu perlindungan hukum terhadap tugas-tugas kewartawanan. “Apalagi sudah ada aturan sebagaimana tercantum dalam UU No 40 tahun 1999 tentang Pers,” pungkas Djodjo
Polres Cirebon Akui Blokir Tol Palikanci

SELAIN sikap rendah hati yang ditunjukkan Kapolwil Cirebon Kombes Pol Drs Bambang Puji Rahardjo dengan menyampaikan permintaan maaf kepada wartawan, Bambang juga menjelaskan tentang ada tidaknya aparat Polres Cirebon memblokir jalan tol Kanci. Dikatakannya, pemblokiran tersebut memang ada, dilakukan beberapa jam kemudian setelah warga Astnajapura melakukan hal serupa. Tujuannya, untuk menghindari terjadinya pelemparan kendaraan oleh warga setempat dan terjadinya kecelakaan. "Kapolres menanyakan ke saya bagaimana kalau dilakukan pemblokiran. Saya sampaikan kalau memang itu langkah terbaik, laksanakan. Saya pikir dengan pemblokiran, masyarakat yang lalulalang tidak akan jadi korban, terutama yang menggunakan kendaraan masuk tol," jelas Bambang.Namun demikian, lanjut Bambang, kebijakan mereka ternyata merugikan pihak jasa marga karena tidak bisa mengutip (memperoleh, red) masukan selama beberapa jam. Ditambahkannya, saat pemblokiran berlangsung, dirinya ditelepon oleh Polda Jabar dan menanyakan maksud pemblokiran tersebut. "Saya jawab ini adalah kebijakan. Memang ada yang dirugikan, namun ada juga yang diuntungkan. Lebih baik saya blokir daripada jaga di jalan tol. Berapa banyak personel yang harus saya persiapkan," tandas Bambang.Sekadar diketahui, soal pemblokiran jalan tol itulah yang membuat Kapolres Cirebon AKBP Drs Pujiono Dulrachman berang. Pujiono tersentak ketika Ivansyah dari Koran Tempo bertanya tentang pemblokiran tersebut. Pertanyaan Ivansyah, dianggap bersifat menuduh. Padahal, hal itu memang benar dilakukan aparat Polres Cirebon. Di sinilah kemudian pekerja pers Cirebon tidak terima dengan sikap Pujiono saat menjawab pertanyaan Ivansyah, dan meminta yang bersangkutan agar meminta maaf.Tetap Menuai KecamanSikap Kapolres Cirebon AKBP Drs H Pujiono Dulrachman, yang justru menyalahkan wartawan dengan alasan telah mengajukan pertanyaan tanpa mematuhi aturan, menuai kecaman. Sikap tersebut dinilai sebagai sikap arogan dan telah mencampuri cara kerja jurnalistik. Padahal, sebelumnya, Ivansyah selaku wartawan yang mengajukan pertanyaan tentang pemblokiran tol, mengaku mengajukan pertanyaan itu dengan sangat santun. "Saya menyampaikannya dengan santun. Apalagi beliau adalah Kapolres. Ketika itu Kapolres marah bahkan mau memukuli saya dengan tongkat komandonya," terang Ivansyah.Adib Hafsani dari Anteve menilai, ucapan Kapolres yang mengatakan wartawan bertanya dengan tidak mematuhi aturan, justru menunjukan sikap yang tidak percaya diri saat menghadapi wartawan. "Melakukan wawancara atau bertanya kepada narasumber, banyak tekniknya. Apa yang dilakukan Ivansyah adalah bagian dari teknik wawancara. Saya sesalkan pernyataan itu. Yang harus dilakukan adalah bagaimana menyikapi pertanyaan dan menjawabnya, bukan dengan emosi dan bahkan mengancam pakai pentungan," tegas Adib Hafsani.Senada dengan Iman, Soni Budi Ramdani dari Tribun Jabar, juga mengecam pernyataan Pujiono, bahkan lebih keras. Bagi Soni, jika semua pejabat bersikap seperti Pujiono, maka kebebasan pers akan terancam. "Ini perlu diwaspadai. Saya khawatir dan cemas dengan sikap seperti yang ditunjukan Kapolres. Saya membayangkan saat melakukan wawancara tiba-tiba dipentungi karena bertanya dengan pertanyaan yang dianggap aneh," terang Soni berandai-andai. Dan, lanjut Soni, hal yang paling disesalkannya adalah tentang mematuhi adat ketimuran yang dimaksud Pujiono. "Sepertinya Kapolres juga harus berkaca. Apa mungkin Kapolres tidak memiliki kecacatan. Apa mungkin Kapolres sudah bersikap sebagaimana adat orang timur. Bukankah caranya menjawab pertanyaan wartawan telah menyalahi adat orang timur," cetus pria lajang ini penuh tanya.

PWI Kecam Sikap KapolresKecaman atas sikap Pujiono, juga datang dari lembaga Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cirebon. Djodjo Sutardjo, wakil ketua PWI Cirebon, kepada Radar, mengatakan, sikap yang dilakukan oknum aparat (Kapolres Cirebon, red), sudah tidak selayaknya dilakukan oleh aparat penegak hukum. “Lebih-lebih dilakukan oleh pucuk pimpinan yang seharusnya mampu mengendalikan emosi dalam situasi apa pun,” tegas Djodjo.Djodjo juga sempat kaget ketika mengetahui ternyata Pujiono enggan meminta maaf, bahkan justru membenarkan diri dan menyalahkan wartawan dengan alasan bertanya tidak sesuai aturan. Dijelaskan Djodjo, cara melakukan wawancara sangat beragam, dan oleh karenanya tidak harus disikapi secara berlebihan. Lanjutnya, secara kelembagaan, PWI mendukung aksi demo yang dilakukan puluhan wartawan dari Forum Wartawan Cirebon (FWC) sebagai perwujudan kekecewaan terhadap Pujiono yang seharusnya memberikan suatu perlindungan hukum terhadap tugas-tugas kewartawanan. “Apalagi sudah ada aturan sebagaimana tercantum dalam UU No 40 tahun 1999 tentang Pers,” pungkas Djodjo
Kapolwil yang Minta Maaf Pujiono Kukuh Mengaku Benar

CIREBON - Diminta meminta maaf karena dianggap tidak etis memperlakukan wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistik, Kapolres Cirebon AKBP Drs H Pujiono Dulrachman tetap tidak bergeming. Hal itu diperlihatkan Pujiono saat disambangi untuk kedua kalinya oleh puluhan pekerja pers Cirebon, kemarin (28/4). Mantan Kapolres Sukabumi ini, justru menyalahkan wartawan dengan dalih bertanya tanpa mematuhi adat ketimuran. "Bertanya kok menuduh begitu," tukasnya enteng di hadapan puluhan wartawan. Diakui Pujiono, karena pertanyaan yang "menuduh" itulah, dirinya menjadi berang. Sepatah kata tentang permohonan maaf, samasekali tidak dilontarkan polisi dengan dua melati di pundak ini. Jangankan meminta maaf, disodori megaphone oleh wartawan agar Pujiono bisa melakukan klarifikasi agar permasalahannya selesai, samasekali tidak dihiraukannya. "Kalau mau dialog, silakan ke ruangan saya. Saya sudah ajak baik-baik lho, kalau nggak mau ya terserah," tandasnya. Di sini, beberapa anak buah Pujiono tampak tegang. Bahkan, ada yang mengancam akan menangkap wartawan dengan alasan melakukan unjuk rasa tanpa pemberitahuan. Mendapat kalimat ancaman itu, sebagian wartawan sempat tersulut emosi. "Ini sebuah arogansi baru. Kapolres dengan anak buahnya sama saja," teriak wartawan. Adu mulut dan aksi saling dorong tak bisa dihindari. Namun beruntung, tak sampai melebar lebih jauh setelah masing-masing pihak bisa menahan diri.Tak lama kemudian, Kapolwil Cirebon Kombes Pol Drs Bambang Puji Rahardjo, tiba di tengah-tengah wartawan dan langsung menjadi penengah. Sebagai pimpinan, Bambang dengan sikap bijak dan rendah hati justru menyampaikan permintaan maafnya kepada wartawan. "Sebagai pimpinan, saya minta maaf," ucap Bambang disambut aplaus wartawan. Saat penyampaian maaf, Pujiono berdiri di belakang Bambang. Sayangnya, tentang sikap Pujiono terhadap wartawan, Bambang justru terkesan melakukan pembelaan. "Itu situasional, mungkin lagi ada masalah. Saya mungkin kalau main golf lalu kalah, ketemu wartawan mungkin tidak mau menyapa," jelas Bambang mengumpamakan.Sesudahnya, Bambang mengajak berdialog. Sejumlah wartawan TV sempat melontarkan beberapa keluhan yang dianggap sebagai sebuah arogansi dari seorang Pujiono. "Saya pernah menghubungi Kapolres, meminta izin meliput untuk sebuah rubrik di TV. Tapi, beliau tidak mengizinkan bahkan mengatakan tidak butuh wartawan," ucap Khaerudin Imawan dari TV7. Mendapat keluhan itu, Pujiono kembali menjawab dengan sekenanya dan membela diri. Karena Pujiono tetap tak mau minta maaf, wartawan kemudian membacakan pernyataan sikap. Ada empat poin penting, diantaranya mengecam keras tindakan Pujiono yang telah bersikap arogan terhadap wartawan yang mengakibatkan tugas wartawan menjadi tidak aman dan terancam, Pujiono harus mengklarifikasi sikap dan perilakunya yang telah melecehkan profesi wartawan, Pujiono diminta dengan kesadaran yang tulus untuk meminta maaf kepada semua wartawan dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, serta aksi ini murni dilakukan Forum Wartawan Cirebon (FWC) sebagai bentuk solidaritas terhadap sesama wartawan yang dilecehkan oleh Pujiono. "Poin terakhir, dan ini perlu dicatat, kami tidak bertanggung jawab atas pemanfaatan aksi ini dalam bentuk apa pun dan oleh pihak mana pun," ungkap Asna Boson Sugiana dari Radar Cirebon. Sekadar diketahui, puluhan wartawan yang tergabung dalam FWC dan Aliansi Wartawan Indonesia (AWI) Indramayu ini, mendatangi halaman Mapolres sekitar pukul 10.30, dan langsung disambut Wakapolres Kompol Nurhadi Handayani, Kasat Reskrim AKP Nanang SP, Kabag Bina Mitra Kompol Dadang dan sejumlah perwira lainnya. Selain berorasi, puluhan spanduk bernada kecaman dibentangkan sepanjang berlangsungnya demo. (rsd)